Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Desember 2010

Guru Mansur: Ulama Betawi Dari Jembatan Lima

Pengantar
Orang Betawi mengklasifikasikan penganjur agama ke dalam criteria pertama adalah Guru yaitu ulama yang mempunyai keahlian dalam suatu disiplin ilmu tertentu, mempunyai otoritas untuk mengeluarkan fatwa dan memiliki kemampuan mengajar kitab. Seorang Guru biasanya menghabiskan seluruh waktuya di masjidnya saja, yang lazimnya di dekat masjidnya itu berdir kompleks madrasah. Guru tidak keluar dari lingkungannya karena orang-oranglah yang mendatanginya. Kriteria berikutnya adalah Mualim. Seorang mualaim itu mempunyai otoritas untuk mengajarkan kitab tetapi belum belum memiliki otoritas mengeluarkan fatwa. Seorang mualim mendatangi kelompok-kelompok pengajian untuk mengajarkan kitab. Kriteria ketiga adalah ustadz. Ustadz mengakarkan ilmu pengetahuan dasar agama termasuk membaca al-Quran.

Sabtu, 25 Desember 2010

Kisah-Kisah Ulama Betawi

Melaksanakan ibadah haji saat ini — dengan pesawat udara — hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran.

Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke
kotasuci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam ke-5, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah.

Minggu, 21 November 2010

Si Pitung

Perampok atau Pemberontak?
Oleh Ridwan Saidi

Si Pitung selama delapan tahun (1886 – 1894) telah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne yang tak mampu menangkap Pitung. Hurgronje menganggap amat keterlaluan kalau seorang Eropa seperti Hijne sampai harus berdukun untuk dapat menangkap Pitung. Hurgronje menganggap kepala polisi ini sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi baru, kereta api, yang dengannya Pitung dapat hilir mudik. Lebih menggusarkan lagi Pitung dapat meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis ketika tertangkap pada tahun 1891. Tidak hanya itu, di luar penjara Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran, yang menjadi musuh petani-petani Kebayoran dan telah pula menjebloskan saudara misan Pitung, Ji’ih, ke penjara dan kemudian dihukum mati.

Sabtu, 13 November 2010

Tokoh Betawi - Benyamin Sueb (1939 - 1995)


Nama:
Benyamin Sueb
Lahir:
Jakarta, 5 Maret 1939
Meninggal:
Jakarta, 5 September 1995
Isteri:
Noni (Menikah tahun 1959)
Pendidikan:
- Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan, Jakarta (1960)
- Akademi Bank Jakarta, Jakarta (tidak tamat)
- SMA Taman Madya, Jakarta (1958)
- SMPN Menteng, Jakarta (1955)
Riwayat Pekerjaan:
- Aktor, penyanyi, penghibur
- Kondektur PPD (1959)
- Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960)
- Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1968)
- Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969)
Penghargaan:
- Meraih Piala Citra 1973 dalam film Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) bersama Rima Melati
- Meraih Piala Citra 1975 dalam film Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975)
Film yang dibintangi:
1. Honey Money and Jakarta Fair (1970)
2. Dunia Belum Kiamat (1971)
3. Hostess Anita (1971)
4. Brandal-brandal Metropolitan (1971)
5. Banteng Betawi (1971)
6. Bing Slamet Setan Jalanan (1972)
7. Angkara Murka (1972)
8. Intan Berduri (1972)
9. Biang Kerok (1972)
10. Si Doel Anak Betawi (1973)
11. Akhir Sebuah Impian (1973)
12. Jimat Benyamin (1973)
13. Biang Kerok Beruntung (1973)
14. Percintaan (1973)
15. Cukong Bloon (1973)
16. Ambisi (1973)
17. Benyamin Brengsek (1973)
18. Si Rano (1973)
19. Bapak Kawin Lagi (1973)
20. Musuh Bebuyutan (1974)
21. Ratu Amplop (1974)
22. Benyamin Si Abu Nawas (1974)
23. Benyamin spion 025 (1974)
24. Tarzan Kota (1974)
25. Drakula Mantu (1974)
26. Buaya Gile (1975)
27. Benyamin Tukang Ngibul (1975)
28. Setan Kuburan (1975)
29. Benyamin Koboi Ngungsi (1975)
30. Benyamin Raja Lenong (1975)
31. Traktor Benyamin (1975)
32. Samson Betawi (1975)
33. Zorro Kemayoran (1976)
34. Hipies Lokal (1976)
35. Si Doel Anak Modern (1976)
36. Tiga Jango (1976)
37. Benyamin Jatuh Cinta (1976)
38. Tarzan Pensiunan (1976)
39. Pinangan (1976)
40. Sorga (1977)
41. Raja Copet (1977)
42. Tuan, Nyonya dan Pelayan (1977)
43. Selangit Mesra (1977)
44. Duyung Ajaib (1978)
45. Dukun Kota (1978)
46. Betty Bencong Slebor (1978)
47. Bersemi Di Lembah Tidar (1978)
48. Musang Berjanggut (1981)
49. Tante Girang (1983)
50. Sama Gilanya (1983)
51. Dunia Makin Tua/Asal Tahu Saja (1984)
52. Koboi Insyaf/Komedi lawak '88 (1988(
53. Kabayan Saba Kota (1992) .

Seniman Betawi Serba Bisa

Ia menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan ‘muke lu jauh’ atau ‘kingkong lu lawan’ pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini.

Tokoh Betawi - Haji Bokir Bin Dji'un


Nama : Haji Bokir bin Dji'un
Lahir : Cisalak, Bogor, 25 Desember 1925
Meninggal : Jakarta, Jumat 18 Oktober 2003
Agama : Islam
Isteri : Tiga orang
Anak : Lima orang
Orang Tua : Dji'un
Profesi : Seniman Topeng Betawi
Karir : Bermain pada sekitar 50-an film.

Senin, 08 November 2010

Dicky Zulkarnaen : Pemeran Si Pitung

Setelah menceritakan tokoh Pitung, tentu anda yang pernah nonton filmya pasti kenal dengan orang yang memerankan tokoh Pitung. Yup, dia adalah Dicky Zulkarnaen. Berikut ini adalah sekilas tentang Dicky Zulkarnaen.

Tokoh yang telah banyak membangun citra perfilman nasional dan pemeran film “Jagoan Betawi” dialah Iskandar Dicky Zulkarnaen. Ia memulai debut di dunia perfilman pada tahun 1959, dua tahun setelah lulus SMA. Ketika itu ia masih bekerja sebagai karyawan dan figuran film. Baru pada tahun 1973, ia mendapat tawaran serius dalam film Salah Asuhan, One Way Ticket”dan Keris Pusaka”di tahun 1976, Krakatau”ditahun 1977 dan Si Ronda Macan Betawi”di tahun 1978.

Dicky beberapa kali meraih penghargaan antara lain sebagai pemain harapan dari PWI dalam film Si Pitung dan Salah Asuhan, serta piala Citra kategori peran pembantu terbaik dalam film Pemberang. Sebagian besar film-film yang diperankannya adalah jagoan silat.

Dicky yang pernah menjadi Ketua II Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), tetapi mundur pada tahun 1977 karena tidak sepaham dengan ketuanya, Soedewo, memang dikenal berpendirian keras. Ia misalnya, pernah mengkritik penyelenggaraan Festival Film Indonesia di Jawa Barat pada tahun 1985 yang seperti di tulis TEMPO, menyebut FFI sebagai pesta koruptor bukan pesta orang film.

Pitung : Legenda Betawi

Pernah dengar nama Pitung? pasti pernah.. yang bukan orang betawi pasti pernah dengar, apalagi orang betawi. Kebangetan kalo sampe ga tau.

Kisah Si Pitung menggambarkan sosok pendekar Jakarta dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu.

Kisah ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama.

Sejarah
Pada dasarnya ada tiga versi yang tersebar di masyarakat mengenai si Pitung yaitu versi Indonesia, Belanda, dan Cina. Masing-masing penutur versi cerita tersebut memiliki versi yang berbeda dari cerita si Pitung itu sendiri. Apakah Si Pitung sebagai seorang pahlawan berdasasrkan versi cerita Indonesia, dan sebagai seorang penjahat jika dilihat dari versi Belanda. Cerita Si Pitung ini dituturkan oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini dan menjadi bagian lengenda serta warisan budaya Betawi khususnya dan Indonesia umumnya. Kisah Legenda Si Pitung ini kadang-kadang dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair, atau cerita Lenong. Menurut versi Koesasi (1992), Si Pitung di identikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang shaleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial.

Jumat, 29 Oktober 2010

Ibnu Hajar Al-Asqalani : Ulama Terdepan dalam Bidang Hadist

Para santri di pondok pesantren tentu tak asing dengan nama Ibnu Hajar al-Asqalani. Pasalnya, ulama ini mengarang sejumlah kitab yang senantiasa dijadikan referensi dan dipelajari di pondok pesantren. Kitab yang dikarangnya antara lain Fath al-Bari, Bulugh al-Maram, tahdzib al-tahdzib dan lainnya.

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani al-Asqalani. Namun ia lebih dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalani. Semasa Hidupnya, ia dikenal sebagai seorang ahli hadist. Karyanya yang berjudul Fath al-Bari (kemenangan Sang Pencipta) merupakan sayarah (penjelas atau komentar) atas kitab sahihnya Imam Bukhari. Oleh banyak ulama, karya Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut disepakati sebagai kitab penjelasan yang paling detail yang pernah dibuat.

Ibnu Hajar dilahirkan pada tahun 773 Hijriyah dan wafat pada tahun 852 hijriyah. Mengenai tempat kelahirannya, ada beberapa pendapat. Ada yang menyebutkan bahwa ia lahir di kota Asqalan, Palestina. Versi lain menyebutkan menyebutkan bahwa ia lahir, besar dan meninggal dunia di Mesir.

Kamis, 28 Oktober 2010

Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M/ 1265 H di Mahallat Nasr, sebuah daerah agraris. Nama asli Muhammad Abduh adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Hairullah. Ayahnya bernama Abduh Hasan Hairullah, berasal dari Turki dan telah lama tinggal di Mesir, sedangkan ibunya berasal dari suku Arab yang menurut riwayat silsilahnya meningkat sampai ke suku bangsa Umar bin Khattab.

Muhammad Abduh belajar membaca dan menulis di rumah. Kemudian menghafal Al-Quran dibawah bimbingan seorang guru yang hafal Al-Quran. Ia dapat menghafal Al-Quran dalam masa dua tahun. Pada tahun 1863 M, ia dikirim orang tuanya ke Tanta untuk meluruskan bacaan Al-Qurannya di masjid Al-Ahmadi. Selama dua tahun, ia mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan seperti bahasa Arab, nahwu , sharf dan lain-lain tetapi Ia tidak mengerti apa-apa. Tentang pengalaman ini, Muhammad Berkata,”Satu setengah tahun saya belajar di masjid Al-Ahmadi, saya tidak mengerti apapun. Ini karena metodenya yang salah, guru-guru mulai mengajak kita dengan menghafal istilah-istilah nahwu atau sharf yang tidak kita ketahui artinya. Guru-guru tak meras penting apa kita mengerti atau tidak istilah-istilah itu.”

 

Site Info



Free Page Rank Tool

Komen Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.